Allah swt Tidak Akan Mengecewakan Rasulullah saw

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Sungguh Aku Rasulullah, dan Allah swt tidak akan mengecewakanku selama lamanya” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الطَّيِّبَةِ الطَّاهِرَةِ…

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan keluhuran sepanjang waktu dan zaman kepada hamba-hamba yang telah menyiapkan sanubari dan dirinya untuk dilimpahi keluhuran. Keluhuran yang Allah limpahkan itu datang dengan kedatangan para nabi dan rasul sampai pada akhir pembawa keluhuran terluhur, nabi yang paling luhur dan menjadi terluhurkan semua pengikut beliau, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pemimpin hamba yang menuntun kepada keluhuran hingga terluhurkanlah jiwa dari gelapnya kehinaan menuju puncak-puncak keluhuran, dari jurang-jurang dosa menuju puncak-puncak kesucian, dari jurang-jurang kemurkaan Allah menuju puncak-puncak keridhaan Allah, dari samudera kesalahan menuju samudera pengampunan dari Maha Raja langit dan bumi Yang tiada berhenti memandang setiap hamba-Nya, dan memelihara hamba-Nya sejak mereka masih di alam rahim bahkan sebelum mereka di alam rahim hingga mereka hidup di muka bumi dan kemudian wafat, sungguh tidak ada yang selalu bersamamu kecuali Allah subhanahu wata’ala. Dia selalu bersamamu disaat engkau berada di alam ruh, kemudian engkau di alam rahim lalu di alam dunia, hingga engkau di alam barzakh. Dialah Allah Yang selalu bersama kita di setiap detik dan kejap, tidak sedetik atau sekejap pun engkau lepas dari kebersamaan Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

(الحديد: 4)

“Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid: 4)

Sang Maha Luhur selalu bersama kita dan bagaimana dengan diri kita, bagaimana dengan sanubari kita, berapa detik sanubari kita bersama Allah, dalam usia kita yang telah lewat berapa detik kerinduan kita kepada Allah, berapa banyak hal yang kita ingat selain Allah, berapa banyak kita mengingat Allah, berapa banyak kita tidak mengingat Allah, berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dari nama selain Allah, manakah yang lebih banyak kita ucapkan, nama Allah ataukah nama makhluk-Nya?, ucapan yang diridhai Allah ataukah yang dimurkai-Nya?, ucapan yang mulia di sisi Allah ataukah yang tiada berarti di sisi-Nya?. Hadirin hadirta, semua ini memanggil kita untuk semakin dekat kepada Yang Maha memaafkan, memanggil kita dan mengingatkan kita untuk mendekat kepada Yang Maha mengubah segala kejadian. Ingatlah di hari esokmu, Sang Maha pengatur tetap akan mengatur. Musibah dan kenikmatan berada dalam satu genggaman tunggal, berapa ribu musibah yang masih akan datang kepadamu dan berapa ribu kenikmatan yang akan datang kepadamu di masa mendatang, Sang Maha melihat sedang melihatmu dan akan terus melihatmu, barangkali hingga detik ini ada segelintir detik dalam sanubarimu menangis ingin dekat kepada Allah, maka Allah angkat ribuan musibah sebelum engkau ketahui dan engkau dilimpahi rahmat dan beribu kenikmatan tanpa engkau sadari. Hadirin hadirat, Sang Maha mengatur akan tetap mengatur, Sang Maha mementukan akan tetap menentukan, Sang Maha memudahkan mampu melimpahkan kemudahan, Sang Maha memberi cobaan mampu memberi cobaan dan mampu menggantikannya dengan kenikmatan. Di bulan yang luhur ini kita mengingat kejadian agung, yaitu perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H. Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah Al Munawwarah bersama 1400 kaum muslimin menuju Makkah untuk melakukan ibadah umrah dan bukan untuk maksud peperangan dan kekerasan dengan senjata, tetapi mereka membawa hewan ternak untuk disembelih sebagai hewan kurban, maka terdengar kabar oleh kaum kuffar quraisy bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Makkah bersama 1400 kaum muslimin untuk melakukan ibadah di Makkah. Maka kaum Quraisy mengirim seorang utusan (Urwah) untuk datang kepada Rasulullah dan menanyakan maksud kedatangan beliau ke Makkah. Maka Rasulullah menjawa : “bukankah kalian saudara kami, dan aku datang bersama kaum muslimin dengan kedamaian bukan untuk perang, lihatlah pakaian kami, lihatlah yang kami bawa adalah hewan-hewan ternak yang akan kami sembelih disana, apakah kalian melihat kami membawa senjata?”, dan setiap kali rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara maka Urwah memegang jenggot rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka marahlah sayyidina Mughirah Ra melihat hal itu kemudian ia memukulkan pedangnya yang masih tertutup dengan sarungnya ke tangan Urwah ketika akan menyentuh jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekata: “jangan kau sentuh lagi jenggot rasulullah, bersopan santunlah dihadapan rasulullah dan katakan saja apa maumu?” , namun rasulullah tetap sabar dan tenang, sedangkan Urwah masih terdiam. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Urwah berkata : “Aku telah pergi ke kerajann Romawi dan aku melihat semua rakyat memuliakan kaisar Romawi, aku melihat rakyat memuliakan kaisar Kisra, dan pengagungan rakyat kepada raja Habasyah, namun tidak pernah kumelihat pengagungan rakyat kepada pemimpinnya seperti pengagungan para sahabat kepada Muhammad, dan banyak diantara mereka tidak mengangkat kepala untuk memandang wajah nabi Muhmmad karena memuliakan beliau”. Diriwayatkan pula ketika rasulullah telah wafat ada seseorang bertanya kepada salah seorang sahabat dan dia ingin mengetahui bentuk wajah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sahabat itu berkata: “sejak aku masuk Islam dan aku mengenal Rasulullah, sungguh aku tidak pernah berani memandang wajah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, karena memuliakan beliau. Dan Urwah melihat lagi keadaan para sahabat dan berkata : ” tidaklah nabi Muhammad membuang air liurnya kecuali telah berada di tangan sahabat lalu diusapkan ke wajah para sahabat”. Air liur dan keringat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih wangi dari segala wewangian yang ada di langit dan bumi, demikian ciptaan Allah yang terindah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan pula bahwa setelah Rasulullah selesai berwudhu, maka para sahabat berebutan untuk mengambil bekas air wudhu sang nabi kemudian mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka, dan yang tidak kebagian air itu maka ia mengambil bekas air yang telah diusapkan ke tubuh temannya, kemudian diusapkan ke wajahnya. Hal ini bukanlah sesuatu yang syirik, namun hal ini adalah cinta para sahabat kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perbuatan para sahabat rasulullah yang saat ini telah dianggap sebagai sesuatu yang syirik, sungguh hal itu sama sekali tidak dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk mengambil barakah dari orang-orang shalih khususnya orang yang tershalih, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka setelah Urwah melihat keadaan seperti itu, dia merasa kecewa dan kembali ke Makkah dia berkata: “kaum muslimin datang dengan damai dan yang mereka bawa hanyalah hewan-hewan ternak yang akan disembelih untuk kurban, tidak membawa senjata untuk berperang, namun jika kita (kaum quraisy) perangi mereka, maka kita akan dikalahkan karena aku melihat bahwa para sahabat sangat mengagungkan nabi Muhammad melebihi pengagungan rakyat kepada kaisar romawi, melebihi pengagungan rakyat kepada raja Habasyi, melebihi penggungan rakyat kepada kaisar Kisra”. Maka kuffar quraisy mengirim utusan yang lain dan dikirimlah Suhail untuk menahan Rasulullah dan kaum muslimin untuk tidak masuk ke Makkah, maka Suhail membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk tidak masuk ke Makkah saat itu namun di tahun yang akan datang, dan sayyidina bin Abi thalib yang menulisnya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika rasulullah memerintahakan sayyidina Ali untuk menulis “Bismillahirrahmanirrahim”, maka Suhail berkata: “jangan tulis Ar Rahman Ar Rahim, tetapi tulis Bismikallahumma, karena kami tidak mengenal Ar Rahman Ar Rahim”, maka kaum muslimin riuh dan berkata: “mengapa nama Allah dilarang untuk ditulis, tetap tulis nama Allah, jangan hirausakan perkataan kaum quraisy”, berkatalah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “jangan tulis bismillahirrahmanirrahim, tulis bismikallahumma seperti yang mereka mau”. Namun sebenarnya sama-sama menyebut nama Allah juga karena orang qurays juga menyembah Allah, namun mereka mempunyai tuhan lain selain Allah. Kemudian rasulullah rasulullah berkata kepada sayyidina Ali : “tulislah, “dari Muhammad rasulullah”, maka Suhail berkata : “jangan tulis Rasulullah, jika kami mengakui engkau rasulullah maka kami tidak akan melarang kalian untuk masuk ke Makkah”, maka orang muslimin pun kembali riuh dan tidak mau jika nama Rasulullah dihapus. Rasulullah diam kemudian berkata :

وَاللهِ إِنِّي لَرَسُولُ اللهِ وَلَوْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ

” Demi Allah, sungguh aku adalah rasulullah meskipun kalian mendustaiku ”

Lalu beliau berkata kepada sayyidina Ali : “tulislah dari Muhammad bin Abdillah”, maka sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapus kalimat Rasulullah dan tangannya pun gemetar, maka rasulullah yang menghapusnya sendiri. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Suhail berkata : “jika ada diantara kami yang mau masuk Islam maka harus dengan seizin kami, dan jika kami tidak mengizinkan maka harus kalian kembalikan kepada kami, namun jika ada diantara kalian yang mau masuk ke agama kami dan kembali ke Makkah maka tidak boleh kalian larang”. Rasulullah masih diam dan belum menjawab ucapan Suhail, para sahabat mulai riuh dan tidak setuju dengan ucapan Suhail. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam, dan belum selesai rasulullah berbicara, datanglah sayyidina Jandal Bin Suhail dalam keadaan tangan yang terikat, dimana ia ingin masuk Islam namun ditangkap oleh kuffar quraiys, maka ia berkata: “wahai Rasulullah, apakah engkau setujui perjanjian itu, berarti aku harus kembali lagi kepada kaum quraisy, aku datang kesini untuk masuk Islam wahai Rasulullah”, maka Suhail berkata: ” dalam perjanjian yang pertama ini, dia adalah orang pertama yang harus dikembalikan lagi ke Makkah, dan kami akan membawanya kembali ke Makkah”, maka berkatalah Jandal bin Suhail: “wahai Rasulullah jika aku dikembalikan lagi kepada orang quraisy maka aku akan dibantai lebih dari pedihnya siksaan yang telah aku rasakan”, maka kaum muslimin pun riuh dan berkata: “wahai Rasulullah bagaimana kita menghalangi orang yang hendak masuk Islam dan menyuruhnya untuk kembali lagi kepada kuffar quraisy?”, namun rasulullah tetap menyetujui perjanjian itu kemudian beliau menandatanganinya. Maka para sahabat mundur dan bingung, ada yang kecewa dan risau, dan tidak tau harus berbuat apa. Di saat itu berdirilah sayyidina Umar bin Khattab dan berkata : “wahai Rasulullah bukankah engkau benar-benar nabiyullah dan utusan Allah?”, tentunya sayyidina Umar bukan ragu dengan kenabian beliau namun beliau hanya ingin mendapatkan jawaban yang jelas agar kaum muslimin menang, maka rasulullah berkata : ” balaa (betul) “, sayyidina Umar kembali berkata : “bukankah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?” , rasulullah berkata : “betul”, lalu sayyidina Umar berkata : “lantas mengapa kita menghinakan diri kita kepada musuh-musuh kita yang sudah jelas-jelas mereka salah?!”, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

” Sesungguhnya aku adalah rasulullah dan Allah tidak akan mengecewakanku”

Maka sayyidina Umar terdiam tidak lagi bisa menjawab perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian sayyidina Umar datang kepada sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan kejadian tadi dan menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa rasulullah berkata:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدً

maka sayyidina Abu Bakr berkata: “betul, nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Allah tidak akan mengecewakan beliau”, sayyidina Umar pun terdiam. Maka tidak lama kemudian turunlah firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

( الفتح:10 )

” Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka , maka barangsiapa melanggar janji, maka seseungguhnya ia melanggar atas janjinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar ” ( QS. Al Fath: 10 )

Semua kaum muslimin saat itu bersumpah bersama rasulullah di dalam perjanjian Hudaibiyah, lalu Allah subhanahu wata’ala berfirman bahwa mereka yang bersumpah setia kepada rasulullah sungguh mereka telah bersumpah setia kepada Allah. Allah subhanahu wata’ala ada dalam sumpah setia mereka. Di dalam ayat lainnya Allah berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

(الفتح : 18)

” Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat” ( QS. Al Fath : 18 )

Allah subhanahu wata’ala telah ridha dengan orang-orang yang telah bersumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah pohon, yaitu dalam bai’at ar ridwan (perjanjian hudaibiyah). Allah mengetahui kekecewaan hati mereka, kemudian Allah turunkan ketenangan di hati mereka dan bagi mereka akan datang kemenangan dalam waktu dekat. Sebelum ayat ini turun, Rasulullah keluar dari kemah dan mengajak para sahabat untuk menyembelih hewan kurban disana lalu mencukur rambut disana, namun para sahabat hanya diam dan tidak satu pun yang bergerak, mereka merasa kebingungan dengan keputusan rasulullah karena selalu menyetujuinya permintaan kuffar quraisy, bagaimana jika mereka akan meminta perjanjian yang lebih dahsyat lagi, mengapa Rasulullah selalu setuju dengan musuh-musuhnya, menjatuhkan muslimin dan membela musuh-musuhnya, para sahabat kebingungan dan tidak ada yang bergerak dari tempatnya, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam kemah dan menjumpai istrinya, Ummu Salamah RA, dan berkatalah Ummu Salamah RA : “wahai Rasulullah jangan bersedih, jika mereka tidak mau menyembelih hewan kurban disini dan mencukur rambut disini, engkau lakukanlah sendiri maka mereka pasti akan mengikuti apa yang engkau perbuat, serisau-risaunya mereka, mereka tetap mencintaimu wahai rasulullah”. Maka rasulullah keluar tanpa berbicara satu kalimat pun, kemudian beliau mulai mencukur rambutnya dan menyembelih hewan kurbannya, maka satu persatu para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sore itu telah turun ayat firman Allah subhanahu wata’ala:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

( الفَتْح: 27 )

” Sungguh Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki masjidil haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman , dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia (Allah) telah memberikan kemenangan yang dekat ” (QS. Al Fath: 27)

Demikianlah ayat yang turun untuk 1400 muslimin yang ada dalam perjanjian Hudaibiyah. Disaat itu kaum muslimin dalam kehausan dan kebingungan, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil wadah air kemudian beliau berwudhu, dan para sahabat telah berkerumun dihadapan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata: “Mengapa kalian berkumpul disini?”, mereka berkata: “wahai rasulullah, tidak ada lagi air kecuali ini, semua perbekalan kami sudah habis” , maka rasulullah menaruhkan tangannya di wadah itu, dan mengalirlah air dari jari-jari beliau. Maka para sahabat meminumnya dan berwudhu dengan air itu. Mereka berkata : “kami berwudhu dan minum sepuasnya dimana jumlah kami 1400, jika jumlah kami 100000 pun pastilah mencukupinya” . Maka di malam itu sayyidina Umar datang ke kemah rasulullah dan memberikan pertanyaan kepada rasulullah namun beliau tidak menjawabnya, sayyidina Umar mengulang pertanyaannya hingga 3 kali tetapi rasulullah tetap diam. Kemudian sayyidina Umar keluar dari kemah rasulullah dan berkata pada dirinya : “sungguh akan celaka diriku, berkali-kali aku bertanya kepada rasulullah namun beliau tetap diam, pastilah akan turun ayat yang akan menegur perbuatanku”, tidak beberapa lama setelah keluar dari kemah rasulullah, seorang sahabat memanggilnya : “wahai Umar, kembalilah karena telah turun ayat”. Sayyidina Umar risau dan khawatir karena mengira pastilah ayat itu turun untuk menegur perbuatannya. Maka rasulullah berkata : “malam ini telah turun ayat yang lebih kusenangi daripada terbitnya matahari”, sayyidina Umar bertanya : “ayat apa wahai Rasulullah?” , maka rasulullah membacakannya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

(الفَتْح: 1-3 )

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)” (QS. Al Fath: 1-3 )

Maka sayyidina Umar berkata : “apakah ini adalah tanda bahwa akan ada fath Makkah wahai Rasulullah?” , Rasulullah berkata : “iya, betul” . Ayat ini turun pada tahun ke 6 H, dan 2 tahun kemudian tepatnya tahun ke 8 H di bulan ramadhan terjadi Fath Makkah tanpa ada kekerasan dan peperangan, Makkah Al Mukarramah dimasuki oleh seluruh kaum muslimin. Kejadian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6 H, setelah itu terjadi Fath Makkah pada tahun ke 8 H, dan ada juga kejadian-kejadin lainnya yang terjadi pada bulan Dzulhijjah diantaranya hajjah al wada’.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, namun kita terus berdoa untuk niat dan hajat kita dengan selalu melanjutkan dzikir jalalah sebanyak 500 kali setiap malamnya. Dulu kita hanya lakukan setiap malam Sabtu, namun kita lihat saat ini banyak musibah terjadi, gunung-gunung berapi bisa kita bilang demo, bukan hanya manusia saja yang bisa demo, jika manusia yang demo maka polisi bisa mengamankan, namun jika gunung yang demo siapa yang mengamankan?!. Saat ini lebih dari 21 gunung berapi yang demo, demo karena apa?, demo karena dosa ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sungguh gunung-gunung itu adalah pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semua gunung memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat Rasulullah dilempari oleh penduduk thaif, maka malaikat penjaga semua gunung yang diperintah oleh Allah untuk menggengam semua gunung di bumi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “wahai Rasulullah aku angkat satu gunung saja lalu aku lemparkan ke Thaif “, maka Rasulullah menjawab : “jangan”, ingat bahwa gunung itu ada yang menjaganya dan ia berkhidmah kepada sayyidina dengan perintah Allah subhanahu wata’ala, itu yang pertama. Yang kedua adalah bagaimana cintanya gunung Uhud kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

” Ini adalah gunung yang mencintai kami, dan kami mencintainya ”

Gunung-gunung mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, memangnya gunung punya perasaan?!, jika kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan beriman kepada Alqur’an maka kalian akan beriman bahwa gunung itu punya perasaan, karena Allah telah berfirman:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

( الحشر: 21)

” Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (QS. Al Hasyr: 21 )

Gunung takut kepada Allah, maka berarti gunung itu mempunyai perasaan. Dan ingatlah firman Allah:

فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

( الأعراف : 143 )

” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (QS. Al A’raf : 143 )

Hal ini menunjukkan bahwa gunung-gunung ini semua memuliakan dan mengagungkan Allah subhanahu wata’ala, bertasbih dan berdzikir kepada Allah, taat dan takut kepada Allah. Dan mereka itu akan tenang jika seandainya manusia berdzikir mengingat Allah, maka gunung dan alam semesta tidak akan mengganggu orang-orang yang berdzikir. Namun ketika manusia melupakan Allah subhanahu wata’ala, maka gunung-gunung itu juga ingin menuntun kita dan membantu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengarahkan ummatnya agar kembali bertobat. Sampai pertanyaan kepada saya : “Bib, apakah Majelis Rasulullah tidak membuat posko untuk bencana-bencana gunung berapi?”, iya kita membuat posko, dan posko-posko kita adalah di majelis kita dalam dzikir-dzikir kita kepada Allah subhanahu wata’ala untuk meredakan semua gunung, karena semua gunung ada dalam genggaman rabbul ‘alamin. Dan tidak ada yang lebih berwibawa dari nama Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى أَنْ لَاتُقَالَ فِي الأَرْضِ الله الله

” Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga tidak lagi diucapkan “Allah Allah” di dunia”

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ عَلَى رَجُلٍ يَقُوْلُ اَلله الله

” Tidak akan terjadi hari kiamat pada seseorang yang mengucapkan “Allah Allah”

Tidak akan datang hari kiamat selama masih ada yang memanggil nama Allah, dan tidak pula akan datang hari kiamat menimpa seseorang yang menyebut nama Allahu Allahu. Jangan kita melihat orangnya, namun kita lihat kewibawaan nama Allah subhanahu wata’ala, satu jiwa yang menyebut nama Allah, hal itu menahan hancurnya alam semesta, jangankan hanya 1 atau dua gunung 20 gunung pun akan reda dengan kewibawaan cahaya nama Allah. Cahaya kewibawaan Allah menghancurkan gunung di zaman nabi Musa AS, dan jika Al Qur’an diturunkan kepada gunung, maka gunung itu hancur, bukankah Al quran itu kesemuanya adalah rahasia keagungan dari pecahan dari nama Allah subhanahu wata’ala. Maka inilah nama Yang Maha Berwibawa, yang jika ada pada sanubari manusia, dilafazhkan atau diingat, maka seluruh kehancuran alam ini akan tertahan karena masih ada yang mengingat dan menyebut nama Allah. Hadirin hadirat, saya ingatkan kembali sadari makna kewibawaan nama Allah subhanahu wata’ala yang menahan kehancuran alam semesta, hanya karena seseorang yang masih menyebat nama Allahu Allahu. Maka bagaimana kehadiran kita di malam hari ini , lebih dari 40000 muslimin muslimat berkumpul di malam hari ini, dan setiap malam mejelis Rasulullah mengadakan dzikir jalalah, hingga 40 malam kita akan terus berdzikir lafazh Jalalah 500 kali setiap malamnya untuk meredam semua musibah, menenangkan gunung-gunung, menenangkan hujan dan yang lainnya, bukan kita meminta kepada gunung atau yang lainnya, namun kita memita kepada pemilik gunung, meminta kepada pemilik hujan, dan pemilik lautan, agar Allah subhanahu wata’ala tenangka karen semua ini adalah milik-Nya dan tunduk kepada pemiliknya, tunduk kepada kepada rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala …..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Pengumuman malam minggu yang akan datang, kita akan mengadakan takbir akbar dan ziarah kubra di majelis ta’lim Al Islah di Jl. Kramat 3 Kwitang Jakarta Pusat, setelah majelis kita akan ziarah kepada Al Habib Ali bin Abdirrahman Al Habsyi Kwitang lalu berziarah kepada ayahandanya Al Habib Abdurrahman Al Habsyi Cikini, jadi saya harapkan 2 hal dari jamaah, yang pertama untuk menggunakan helm demi menjaga nama baik Majelis Rasulullah, dan yang kedua jangan mendahului ziarah namun kita berdzikir dulu, jangan meninggalkan dzikir karena setiap malam kita melakukan dzikir lafzh Jalalah, demikian yang ingin saya sampaikan. Selanjutnya kita saling doa dan saling mendukung untuk membantu kemajuan dakawah kita dan kesuksesan acara kedatangan guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, yang Insyaallah di akhir Desember 2010. Kita akan mengadakan acara besar-besaran insyaallah sukses, mungkin kita akan pasang 40 sampai 60 baleho, hingga ke Pekalongan, Demak, Denpasar, Banjarmasin dan Jawa Timur Insyaallah. Kita berharap jamaah yang hadir melebihi 5 juta muslimin muslimat, dan kita akan mengundang ulama-ulama besar dari pulau Jawa dari para ulama sepuh dan para habaib akan berkumpul di Monas, semoga segala halangan dan rinatangan disingkirkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan membawa rahmat bagi kita semua. Selanjutnya kita bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

( النساء: 64 )

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. An Nisaa: 64 )

Ketika para sahabat telah merasa banyak berbuat salah, mereka berdatangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka beristighfar kepada Allah, lalu Rasulullah memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mengampuni dosa mereka dan berkasih sayang. Hal ini di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Al Imam Ibn Katsir di dalam tafsirnya menukil riwayat dari Al Imam Qurthubi bahwa salah seorang Baduwi datang ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia membaca ayat itu, maka ia berkata : “Wahai Allah, aku sekarang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘aalaihi wasallam walaupun beliau telah wafat, namun telah engkau firmankan :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

(آل عمران : 169 )

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS. Ali Imaran: 169)

Apalagi pimpinan orang-orang yang wafat di jalan Allah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang telah bersabda, sebagaimana yang telah dinukil oelh Al Imam Ibn Katsir : “Siapa yang bersalam kepadaku, maka Allah subhanahu wata’ala menyampaikannya kepadaku dan aku menjawab salamnya” , maka orang baduwi itu berkata : “wahai Allah aku tidak hidup di zaman Rasulullah, sekarang aku datang ke makamnya, maka aku mohon pengampunan-Mu di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan makamnya akan tetapi ruh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jika engkau ampuni dosaku akan gembiralah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan akan sedihlah syaitan, dan jika engkau tidak mengampuni dosaku maka akan bersedihlah Rasulullah dan gembiralah syaitan, dan sungguh tidak mungkin Kau akan menyedihkan nabi-Mu dan menggembirakan syaitan”, maka Al Imam Qurthubi yang duduk disana mengantuk lalu tertidur, ia bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “wahai Qurthubi bangun dan kejarlah orang baduwi itu dan katakana kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya”. Maka kita bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdoa agar Allah subhanahu wata’ala menjauhkan musibah dari kita dan muslimin muslimat, serta mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga kita dalam sebaik-baik keadaan, amin. Setelah itu kalimah talqin oleh guru kita fadhilah As Sayyid Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: