Ucapan Yang Paling Dicintai Allah SWT

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
(رواه مسلم)

Sabda Rasulullah SAW : “Maukah kukabarkan pada kalian ucapan yang paling dicintai Allah?”, ku katakan (Abu Dzar ra) : “Wahai Rasulullah SAW, kabarkan padaku ucapan yang paling dicintai Allah SWT”, bersabda Rasulullah SAW : “Ucapan yang paling dicintai Allah SWT adalah: “Subhanallahi wabihamdih (Maha Suci Allah dan padaNya pujian luhur.” ( Shahih Muslim )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata’ala Yang telah mengumpulkan kita di dalam tuntunan keluhuran, di dalam hujan rahmat Allah, di dalam limpahan anugerah yang terluhur yaitu seruan Allah subhanahu wata’ala yang kita datangi dan kita dengarkan, yang kita telaah sehingga sampailah namaku dan nama kalian dalam keputusan Ilahi tertulis di malam ini sebagai tamu rahmat Allah subhanahu wata’ala, tamu pengampunan Allah, tamu keluhuran Allah, tamu yang disayangi dan dikasihani Allah. Ya Allah, pastikan semua dari kami di dalam kasih sayang-Mu, di dalam pengampunan-Mu, di dalam keluhuran-Mu di dunia dan akhirah. Limpahan puji ke hadirat Allah Yang Maha Luhur yangmenyambungkan kita dengan guru-guru yang luhur menuju kepada pemimpin pembawa keluhuran, sayyidina Muhammad shallalahu ‘alahi wasallam, pembawa tuntunan keluhuran Ilahi, yang diwariskan dari zaman ke zaman, sehingga sampailah kita pada hadits luhur ini, dimana kita sama-sama menyambungkan sanad ijazah kepada Al Imam Muslim, yaitu salah seorang muhaddits terbesar yang kedua setelah Al Imam Al Bukhari. Maka sampailah kalimat ini dari guru ke guru hingga bersambung kepada Al Imam Muslim, yang meriwayatkan sanad selanjutnya dari para perawinya sampai kepada rasulullah shallallahu ‘aliahi wasallam. Hadits ini diriwayatkan di dalam Shahih Muslim dimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari Radiyallahu ‘anhum waardah :

أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

“Maukah aku beritahukan kepadamu ucapan yang paling dicintai oleh Allah?”. Maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku ucapan yang paling dicintai Allah itu.” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah ‘Subhanallahi wa bihamdih .”

Subhanallahu wabihamdihi ( Maha Suci Allah ) . Hadirin hadirat, tentunya dengan kalimat yang paling dicintai Allah ini, maka mereka yang mengucapkannya akan sangat dilimpahi rahmat Allah subahanahu wata’la, mereka yang mengucapkan dengan zhahir dan bathinnya dan tentunya untuk mereka yang telah menyaksikan tiada Tuhan selain Allah, dan nabi Muhammad utusan Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

( الأنفال : 24 )

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu , ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” ( QS. An Anfal : 24 )

Undangan-undangan Ilahi setiap detik memanggil kita kepada keluhuran, setiap nafas kita adalah panggilan kasih sayang dari Allah untuk mencapai ridha-Nya, untuk mencapai pengampunan-Nya, untuk mencapai kedekatan kepada-Nya, untuk mencapai kemuliaan kehadirat-Nya, kemuliaan dunia dan akhirat adalah milik-Nya maka mohonlah kepada Yang Maha Memilikinya, Yang Maha membagi-bagikannya sepanjang waktu dan zaman, Yang Maha melimpahkannya sepanjang generasi mulai ada hingga semua generasi berakhir. Dan Allah subhanahu wata’ala telah menjamin dimana tidak akan pernah terjadi hari kiamat selama masih ada yang memanggil nama-Nya, Allah…Allah. Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Muslim :

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى أَنْ لَاتُقَالَ فِي الأَرْضِ الله الله

” Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga tidak lagi diucapkan “Allah Allah” di dunia”

Dan dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ عَلَى رَجُلٍ يَقُوْلُ اَلله الله

” Tidak akan terjadi hari kiamat pada seseorang yang mengucapkan “Allah Allah”

Maka barangsiapa yang mengingat Allah maka ia dijaga oleh Allah dari segala sesuatu, kenapa? Karena ia bersama Allah, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsy :

أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

“Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-Ku”

Hati-hati dengan orang yang selalu mengingat Allah, orang yang banyak berdzikir, karena dia selalu dinaungi Allah subhanahu wata’ala, dan naungan Ilahi tidak bisa ditembus dengan segala kekuatan lainnya bahkan seluruh kekuatan itu adalah dari-Nya dan milik-Nya, Allah mencabut kekuatan itu dari yang dikehendaki dan memberikannya pada yang dikehendaki untuk menjadikan mereka semakin mulia atau membuat semakin jauh dari-Nya karena kejahatan yang mereka lakukan, semoga Allah melindungi kita dengan kekuatan-Nya agar kita dijauhkan dari jahatnya tipuan syetan, dari fitnah dan musibah, disingkirkan oleh Allah dengan lindungan rahmat-Nya, lindungan kasih sayang-Nya di setiap waktu di dunia dan akhirah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala berfirman :

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

( الحشر : 21 )

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. ( QS. Al Hasyr : 21 )

Hal ini Allah subhanahu wata’ala jadikan sebagai bahan untuk kita berfikir, maksudnya bahwa rahasia yang terbesar bukan ada pada gunung, langit atau bumi, tetapi ada pada sanubari ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena mereka mampu menampung al qur’an al karim, sebagaimana riwayat Al Imam Ibn Athaillah di dalam kitabnya Al Hikam, Allah subhanahu wata’al berfirman di dalam hadits qudsy :

مَا وَسِعَنِيْ أَرْضِيْ وَلَا سَمَائِيْ وَلكِنْ وَسِعَنِيْ قَلْبُ عَبْدِيْ الْمُؤْمِنِ

“ Tidak mampu menampung-Ku bumi-Ku atau langit-Ku, tetapi mampu menampung-Ku hati hamba-Ku yang beriman.”

Maksudnya bukan menampung dzat Allah, tetapi menampung rahasia keluhuran Allah, jiwa ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang beriman siap menampung Al qur’an Al Karim, kalamullah yang tidak mampu ditampung oleh gunung sekalipun, maka kekuatan sanubari hamba yang beriman lebih kuat dibandingkan dengan gunung. Gunung jika diturunkan Al qur’an kepadanya maka ia akan lebur dan hancur, namun sanubari hamba yang beriman jika terkena cahaya Al qur’an maka ia akan berpijar dan menjadi cahaya hidayah bagi yang lainnya. Inilah makna khalifah (pemimpin di muka bumi) bahwa jiwa orang-orang yang beriman itulah yang membuat rahmat Allah berlimpah di wilayah sekitarnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

( الفتح : 25 )

“Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu . Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” ( QS. Al Fath : 25 )

Jika mereka para shalihin sirna atau wafat maka siksaan akan turun untuk semua yang kufur kepada Allah subhanahu wata’ala. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang-orang yang beriman menjadi benteng turunnya azab bagi wilayah sekitar dimana dinatara mereka banyak orang-orang yang kufur, namun ada yang beriman maka mereka adalah benteng dari Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah memakmurkan para shalihin, semakin banyak hamba yang berdzikir, yang dengan itu Allah akan membuka kemakmuran dalam kehidupan dunia ini, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa kelak akan muncul kemakmuran yang melimpah dan menyeluruh pada ummat Islam, maka ketika itu para sahabat bertanya: “bagaiamana keadaan ummat di saat itu ?” rasulullah menjawab : “mereka lebih mencintai sujud daripada dunia dan seisinya”. Jika telah banyak orang yang asyik dengan sujud, dan banyak orang yang asyik melakukan shalat, maka di saat itulah kemakmuran akan terbit, itu adalah janji sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah memakmurkan kita dengan menjadikan kita dan keluarga kita orang-orang yang taat melakukan shalat, tidak ketinggalan waktu shalat dan Allah memberi kita kemudahan untuk mengamalkan shalat-shalat sunnah, sehingga kita tidak hanya mengerjakan shalat fardhu saja. Kita ketahui semakin banyak orang-orang yang berusaha menggampangkan shalat, misalnya muncul fatwa bahwa shalat subuh boleh dilaksanakan jam 9 pagi, fatwa seperti apa dan dari mana hal ini?!, karena semua madzhab tidak ada yang mengatakan bahwa shalat subuh boleh dilakukan jam 9 pagi, namun jika terlambat bangun maka shalat subuhnya wajib di qadha’ meskipun jam 12.00 siang. Disebutkan dalam hadits riwayat Shahih Al Bukhari dimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlambat mengerjakan shalat subuh, hal ini bukanlah merupakan dalil diperbolehkannya shalat subuh dilakukan selepas waktu subuh (waktu isyraq), namun hadits ini adalah sebagai dalil wajibnya menggadha’ shalat jika telah lewat dari waktu yang ditentukan, karena di dalam riwayat lain di dalam Shahih Al Bukhari juga dijelaskan bahwa Jibril As mengajarkan shalat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana shalat yang pertama kali diajarakan adalah shalat dzuhur, kemudian shalat Asar, Maghrib, Isya dan Subuh. Maka di hari pertama Jibril melakukan shalat kesemuanya di awal waktu, dan di hari kedua malaikat Jibril melakukan shalat itu kesemuanya di akhir waktu, kemudian Jibril berkata : “baina hadzain ya rasulallah, diantara dua waktu ini wahai rasulullah”. Jadi waktu shalat subuh sudah jelas yaitu mulai adzan Subuh sampai waktu isyraq. Waktu isyraq itu perkiraannya 1 jam 45 menit setelah azan subuh, namun itu secara perkiraan saja, jika mau tau pasti waktu isyraq atau akhir waktu subuh maka bisa kita lihat jadwal shalat yang diterbitkan oleh Departemen Agama. Disana dicantumkan waktu isyraq yaitu berakhirnya waktu Subuh dan jika lewat dari waktu itu maka shalat subuh harus di qadha’, jika hal itu disengaja maka terkena dosa dan wajib di qadha’. Semoga Allah makmurkan shalat subuh bagi kita, memudahkan kita untuk melakukannya, karena Allah subhanahu wata’ala memberikan kemuliaan untuk orang yang mengerjakan shalat subuh berjamaah, dimana pahalanya sama dengan pahala qiyamul lail sepanjang malam, adapun shalat isya’ berjama’ah pahalanya sama dengan qiyamul lail setengah malam, sebagaimana hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.”

Demikian layaknya kita para pecinta nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk selalu berusaha untuk membela hal-hal yang wajib untuk terus kita lakukan, adapun bagi yang belum mampu maka haruslah berusaha, misalnya dengan memasang alarm di hp, atau dengan meminta dibangunkan ke semua teman yang lain dengan cara misscall atau menelfon di waktu subuh, jika belum juga di angkat maka jangan dimatikan sampai ia bangun, karena dengan usaha itu kita akan mendapatkan pahalanya.

Hadits tentang keutamaan bacaan tasbih ini terdapat sekitar 12 riwayat di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, yang menjelaskan makna kemuliaan bacaan ini. Di dalm Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَـانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Dua kalimat yg ringan di lidah pahalanya berat di timbangan dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih adalah: Subhaanallaah wabihamdih subhaanallaahil ‘azhiim.”

Dan dalam riwayat lainnya :

سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Kedua riwayat Shahih Al Bukhari ini menunjukkan bahwa kalimat “subhanallah wabihamdih”, merupakan kalimat yang ringan diucapkan dengan lisan, dan berat di mizan (timbangan amal), dan sangat dimuliakan dan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Kalimat tasbih adalah mensucikan nama Allah subhanahu wata’ala meskipun Allah tidak butuh disucikan, namun cahaya kesuciannya kembali berpijar kepada kita, karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang membaca: “Subhanallah wabihamdihi” dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih air laut.”

Demikian agungnya makna kalimat “Subhanallah wabihamdihi, Maha Suci Allah”. Allah Maha Suci namun kita mensucikan Allah di dalam hati kita agar kita disucikan oleh Allah, disucikan dosa, disucikan dari musibah, disucikan dari penyakit, disucikan dari gundah, disucikan dari segala niat yang hina, dan disucikan di dunia dan akhirah. Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam kitab Adab Al Mufrad bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita bahwa ketika nabi Nuh As akan wafat ia memanggil anak-anaknya dan berkata: “wahai anak-anakku jika aku wafat nanti maka aku wasiatkan kepada kalian dua kalimat, yang pertama : “Laa ilaaha illallah” dan yang kedua : “Subhanallah wabihamdih”, mengapa? karena kalimat Laa ilaaha illallah jika ditimbang dengan seluruh alam semesta maka akan lebih berat kalimat Laa ilaaha illallah. Sedangkan kalimat Subhanallah wabihamdih adalah shalatnya seluruh makhluk selain jin dan manusia, dan dari kalimat ini Allah memberi rizki seluruh hamba-hamba-Nya, semakin banyak orang yang mengulang-ulang kalimat ini, maka akan semakin diluaskan rizkinya zhahir dan batin. Maka jika ingin diluaskan rizki oleh Allah perbanyaklah bacaan Subhanallah wabihamdih, diucapkan dengan lisan dan hatimu, semakin engkau memuji dan mensucikan Allah, maka Allah akan membuatmu semakin suci dan semakin terpuji.

Sampainya hadits ini kepada kita, makna terbukanya rahasia keluhurannya untuk kita sudah dipersiapkan oleh Allah, maukah kalian mengambilnya?!. Rahasia kemuliaan tasbih mensucikan kita dari dosa dan dari musibah . Dijelaskan ketika Allah subhanahu wata’ala berfirman, dimana ketika nabiyullah Yunus As ditelan oleh ikan nun dan dibawa ke dasar samudera, maka di saat itu Allah subhanahu wata’ala berfirman :

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

( الصفات : 143-144 )

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari dibangkitkan.” ( QS. As Shaffat : 143 – 144 )

Jika nabi Yunus As bukan orang yang banyak bertasbih maka dia akan tetap di dalam perut ikan hingga hari kebangkitan. Hal ini menunjukkan bahwa cobaan atau musibah yang semestinya ribuan tahun, akan dipersingkat oleh Allah dengan banyak bertasbih, dan ummat yang paling banyak bertasbih adalah ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika kita shalat kemudian ruku’ kita membaca “Subhana rabbi al ‘azhimi wabihamdih” , dan ketika sujud kita membaca “Subhana rabbi al a’laa wabihamdih”, dan tanpa kita sadari bahwa dengan sekali kita melakukan shalat maka beribu-ribu musibah yang telah Allah singkirkan dari kita, atau Allah persingkat waktunya, misalnya yang seharusnya diberi cobaan dengan sakit setahun, maka Allah hanya jadikan sakit sehari dikarenakan kita melakukan shalat, namun jika kita meninggalkan shalat maka berarti kita telah menciptakan musibah di masa mendatang, mungkin di dunia dan bisa juga di akhirah, semakin jauh dari dosa maka semakin jauh dari musibah, dan semakin banyak melakukan dosa maka kita telah membuat musibah untuk diri kita di masa mendatang, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

( الشورى : 30 )

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Semoga Allah menjauhkan kita dari musibah, menjauhkan kita dari perbuatan dosa dan menjadikan kita orang yang banyak bertasbih. Hadirin hadirat, shalat adalah menghadapanya kita kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaiamana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

“Sesungguhnya diantara kalian jika berdiri untuk melakukan shalat, sungguh ia sedang berbicara pada Tuhan Nya”

Maka ketika shalat terbukalah hijab antara kita dengan Allah, mulai dari kita bertakbiratul ihram dengan mengucapkan “ Allahu Akbar ” terbukalah hijab antara kita dengan Allah, tabir ruhiyyah antara kita dengan Allah dibuka, namun tabir jasad tidak dibuka tidak bisa kita melihat Allah dengan mata kita, kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun mata hati kita dipersilahkan untuk berhadapan dengan Allah, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“ Ihsan yaitu engkau beribadah kepada AllAh seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila belum bisa melihat-Nya (sadarilah) sesungguhnya Allah melihatmu.”

Maka di saat takbiratul ihram rasakan dan sadari bahwa ada satu dzat Yang Maha Tunggal yang melihatmu, melihat fikiranmu dan sanubarimu yang terdalam, mengetahui apa yang akan terjadi padamu, dan mampu mengubah keadaan untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk di masa mendatang, maka kita sedang berhadapan dengan Allah saat melakukan shalat mulai dari takbiratul ihram sampai salam. Al Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA dan juga Al Imam Ali Zainal Abidin, saat berwudhu untuk melakukan shalat maka ia gemetar dan wajahnya menjadi pucat, dan ketika ditanya mengapa demikian? Maka dia menjawab : “taukah engkau aku akan berhadapan dengan siapa?, Rabbul ‘alamin. Demikianlah keagungan shalat, dimana di saat engkau membaca surat Al Fatihah dengan menghadirkan hati dan mendalami maknanya, maka Allah menjawabnya sebagaimana Allah berfirman di dalam hadits qudsy:

قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ ، فَإِذَا قَالَ : اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ قَالَ اللهُ : حَمَدَنِيْ عَبْدِيْ فَإِذَا قَالَ : اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ، قَالَ اللهُ : أَثْنَى عَليَّ عَبْدِيْ ، فَإِذَا قَالَ : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ، قَالَ الله : مَجَّدَنِيْ عَبْدِيْ ، فَإِذَا قَالَ : إِياَّكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ، قاَلَ : هَذَا بَيْنْيِ وَبَيْنَ عَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ ماَ سَأَلَ ، فَإِذَا قاَلَ : إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضّالِّيْنَ ، قَالَ اللهُ : هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ

“Aku (Allah) telah membagi salat diantara Aku dan hambu-Ku menjadi separuh, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dia minta. Apabila hamba berkata: “Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Memelihara sekalian alam”, maka Allah mejawab : “hambaku telah memujiku”, apabila hamba berkata : “Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani”, Allah menjawab: “Hambaku telah memuliakan-Ku”, apabila hamba berkata : “Yang Menguasai hari Pembalasan (hari akhirat).” Mak Allah menjawab : “Hambaku telah mengagungkan Aku”, apabila hamba berkata : “ Hanya kepada Engkaulah (Ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”, Allah menjawab : “Ini adalah diantara Aku dan hamba Ku, dan hambaKu kan mendapatkan apa yang dia minta”, apabila hamba berkata :”Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah karuniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat”, maka Allah menjawab : “Semua ini adalah untuk hamba ku, dan hamba ku akan mendapat apa yang dia minta”.

Maka selesai shalat akan kau rasakan ketenangan yang membuatmu lebih lebih malas untuk berbuat dosa dan lebih senang berbuat ibadah, itulah makna dari kalimat :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

( الفاتحة : 6-7 )

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” ( QS. Al Fatihah : 6-7 )

Dalami kedalaman maknanyadan rasakan kenikmatannya, dan setelah kau selesai shalat pun kenikmatanya akan kekal dan abadi, menuntun kita dari waktu ke waktu, dari satu shalat ke shalat berikutnya, kita akan semakin luhur, semakin indah dan semakin jauh dari musibah hingga kita berjumpa dengan dzat yang kita bersujud kepada-Nya, Allah subhanahu wata’ala. Demikian rahasia keluhuran yang disampaikan kepada kita dari guru kita, dari guru-gurunya sampai kepada imam para guru, guru dari semua guru sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tenangkan hatimu dengan kalimat tasbih, dengan membaca subhanallah wabihamdihi setiap harinya 100 kali maka hatimu akan merasa tenang, harimu akan lebih tenang dibanding hari yang engkau tidak membacanya, wajahmu akan lebih cerah daripada hari yang engkau tidak membacanya, perasaanmu lebih sejuk dibandingkan di hari yang engkau tidak membacanya. Begitu juga setiap selesai shalat membaca Subhanallah 33 x, Alhamdulillah 33 x, dan Allahu Akbar 33 x atau 34 kemudian diakhiri dengan bacaan Laailaaha illallah wahadahu laa syariika lah, lahu almulku wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu, namun dengan mendalami maknanya, jangan beramal untuk kau mendapatkan balasan dari Allah, jadikanlah amalan kita untuk mencapai keridhaan-Nya, maka Allah akan memberikan apa yang kita inginkan sebelum kita memintanya. Allah Maha Mengetahui hajat kita di masa ini, esok dan yang akan datang. Dan Allah Maha Tau apa yang harus dijauhkan dari kita dan apa yang harus diberikan kepada kita, Allah subhanahu wata’ala yang akan memilihkan yang terbaik dan yang terindah untuk kita, Allah subhanahu wata’ala akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepada kita, jika Allah akan memberi apa yang kita kehendaki sebelum kita meminta, terlebih lagi jika kita memintanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Semakin hari semakin banyak manusia yang menjauh dari kebenaran, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.”

Kebenaran yang harus kita cari, teliti guru-gurumu, carilah guru-guru yang mempunyai sanad dan mengikuti guru-gurunya, bukan berarti guru yang tidak mempunyai sanad keguruan maka kita tidak boleh berguru kepadanya, namun harus kita lihat apakah bertentangan dengan guru-guru besar yang lainnya, jika bertentangan maka kita cari guru yang lain. Jika seandainya ada guru yang tidak diketahui sanad keguruannya namun yang diajarkan sama dengan guru-guru yang lain maka hal seperti itu tidak apa-apa berguru kepada seseorang yang tidak diketahui sanad keguruannya. Dijelaskan dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari ada sebuah Atsar sahabat bahwa Ummat tidak akan bersatu dalam kesesatan , pasti ada para ulama’ yang membawa pada kebenaran.

Sebelum kita berdoa bersama, kita meminta kepada As Syaikh Al Ustadz Ridwan …. untuk menyampaikan kalimah ringkas, setelah itu kita berdoa bersama, tafaddhal masykura.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: